GSXR150…. Racy Banget!

Hola sobat ABers.

Lama banget sudah aku gak nulis di blog sederhana ini. Oke deh langsung aja sob. Kali ini aku mau bahas impresi awal naik ke motor baru Suzuki nih. Yaap, apalagi kalau bukan GSXR150. Motor sport entry level dari Suzuki buat kelas 150 cc ini sempat jadi dan mungkin masih panas-panasnya ni sob di dunia blogsphere Indonesia. Power terbesar di kelasnya untuk saat ini bikin kesan kalau Suzuki kali ini gak main-main buat keluar dari keterpurukan dan bangkit lagi.

Kebetulan tadi pagi jalan ke dealer Suzuki pusat di Balikpapan, sekalian nyicip duduk di atas joknya si GSXR ini sob. Asli impresi awal pas naik, pas banget sama aku ni motor. Kaki napak mendekati sempurna di tanah. Sebagai tambahan tinggiku 170 cm sob. Yahh kalo sobat punya paha lebih tipis lagi mungkin bisa lebih napak sempurna dibanding aku. Jok sih menurutku gak kekerasan juga gak keempukan, pas aja sob kalo untuk short trip nampaknya. Terus juga berat motornya, dimensinya juga gak nge-intimidasi sob. Cakep laah. Posisi stang under yoke ya ckup bikin bungkuk yaa,nih penampakannya sob

Posisi kakipun mundur khas sport fairing nih. Racy abiiiiss. Itu kesanku waktu nunggangin ini motor sob. Sempet liat dan pegang-pegang bodinya ya memang benar seperti yang diulas blog papan atas, kalau materialnya solid sob, catnya pun paten lah. Sayangnya gak ada unit test ride nya ni dan disini belum rilis juga soalnya.

Dengan harga promo di Balikpapan Rp.29.999.000 yaa lumayan ni buat head to head sama CBR150R nya Honda atau YZF R15 Yamaha current yaa dan layak buat dimiliki ni sob. Tambahan tadi dari salah satu karyawan dealer, bahwa untuk wilayah Balikpapan dealer Suzuki yang ada bengkelny tinggal Samekarindo pusat di Gunung Sari, gak tau deh di dealer lainnya. Ya mungkin itu aja sob yang bisa kubagikan kali ini. Sampai ketemu di artikel lainnya yaa. Insya Allah.

Jangan Kau Larang Kami!!! 

Judulnya berasa galau ala anak alay ya sob? Oke skip. Kali ini ane ceritanya mau nulis soal perusahaan energi migas dalam negeri alias plat merah sob, yaa sebut aja Pertamina. Mereka rilis artikel soal larangan penggunaan oli diesel dalam hal ini Fastron Diesel di motor.  Lengkapnya bisa buka link ini ya sob

http://www.pertaminaracing.com/berita/15/5590/generalauto/Please+Fastron+Diesel+Bukan+Untuk+Motor
Berita lawas yang ane coba analisis dari sudut pandang awam ane ya. Sebenarnya idealnya sebuah perusahaan tidak berhak melakukan pelarangan dalam hal apapun mengenai penggunaan produknya. Hanya boleh menyarankan saja. Memang jika kita langgar larangannya untuk pakai oli diesel di motor, tidak ada penindakan hukum. Tapi tetap saja gak etis menurut ane sob. Di artikel itu admin pertamina racing nyoba jelaskan (sayangnya gagal)  soal dampak penggunaan oli diesel di motor. Jika sobat baca artikelnya kurang berisi dari sudut lampiran data, informasi valid, dan hasil uji. Hanya berisi opini saja (seperti tulisan ane ini. Hiks). Sungguh disayangkan perusahaan sebesar ini dan perusahaan yang ane banggakan ngeluarkan statemen begitu di dumay. 

Seharusnya Pertamina ngadain jumpa pers dan menjelaskan dengan jujur mengenai produknya atau paling tidak, jangan melakukan pelarangan penggunaan oli mobil di motor. Apalagi hanya berdasar dugaan-dugaan sajaa. Teman-teman dari LDIC yang pakai Fastron series termasuk yang diesel itu tujuannya ingin mengurangi limbah oli bekas dan merawat kendaraan mereka saja ko sob. Sekaligus membantu meningkatkan penjualan pertamina dibidang pelumasnya. Dan jika memang pertamina ingin orang-orang ini kembali pakai oli motor, maka keluarkan produk yang bagus dong. Bukan dengan memaksa untuk downgrade ke pelumas short drain. Ane bikin artikel ini bukan maksud serang pertamina, tapi justru karena ane sayang dan peduli sama pertamina. Ketika pertamina produknya disayang banyak rider ehh malah ngeluarkan statemen yang “melukai” fans produknya. Ibarat kata pertamina jadi penjual yang ngelarang dagangannya dibeli. Ane harap semoga pertamina mau ngeluarkan artikel revisi ato ralat ato paling tidak menjawab komentar-komentar di artikel itu yang  buaaanyaaak banget sob. Belum lagi yang via email. Dan semoga pertamina bisa makin maju lagi dan semakin menjadi tuan dirumah sendiri. Jangan lukai fansmu (ane termasuk fans berat pertamina). Monggo dikomentari sob. 

Informatif atau pembodohan(?)

Oli. Sobat pasti tau apa fungsi dari oli buat mesin motor kesayangan? Iyapp, buat pelumasan sob. Oli itu didesain sedemikian rupa dengan mengacu berbagai syarat atau standar yang sudah ada didunia ini sob. Contoh, sobat pasti sering denger ato liat ada tulisan JASO di kemasan oli yang sobat beli, ato tulisan SAE dan API. Nah dibuatnya standar-standar ini untuk mempermudah konsumen dan pabrikan sob. Semacam komunikasi ato bahasa standar antara pabrikan kendaraan, user dan pabrikan oli sob. Jadi biar mudah dalam pemilihan dan penyetandaran.

Contoh ya. Merek X mengeluarkan motor dengan rekomendasi oli untuk mesin adalah SAE 10w-40, dengan standar API  SJ. Nah ini bukan berarti kalau user mau pake oli SAE 10w-30, 0w-50 dilarang sob, karena SAE bukan ngukur standar kualitas oli itu baik ato buruk. Begitu juga kalu user mau pake oli API SN, bukan berarti bahaya ato merusak karena sebenarnya itu cuma bahasa pabrikan kendaraan untuk mempermudah user dalam milih oli yang pas buat mesinnya. Standarnya demikian sob. Malah API SN jelas lebih baik daripada SJ dalam contoh kasus ini.

Nah kebanyakan pabrikan atau oknum pabrikan tidak menjelaskan secara kongkrit soal ini sob. Mereka hanya berpatokan dengan SAE saja, bahkan salah satu pabrikan ada yang buat perbandingan antara SAE oli rekomendasi dia dengan SAE lain.

Ane pernah nemu peraga ini di HEPS kota ane. Tapi gambar diatas bukan ane yang poto ya sob. Heheheh.

Disitu ditulis 10w-30 mampu melumasi celah sempit sehingga dapat memaksimalkan kinerja mesin. Buat apa sob punya kemampuan melumasi celah sempit tapi gak dikasih tau base olinya apa dan juga ada kalimat proteksi mesin maksimal. Hello.. bagaimana mungkin bisa kita tau proteksinya maksimal cuma berdasar SAE doang sob? Berikutnya ada kalimat irit bbm. Irit kalo mesinnya gak dijalankan dengan metode eco riding ya boros juga sob. Ya gak.? 

Jadi kesimpulannya ane bikin artikel ini bukan buat counter AHM sob, tapi buat kasih sedikit informasi yang ane punya kalau liat kualitas oli buat motor kita gak cukup dari parameter SAE doang. Masih ada API, Ilsac, base oil dan lain sebagainya. Jadi buat sobat yang pernah liat itu peraga, jangan langsung ter agitasi ya sob. Diliat lagi apa sebuah oli itu ada PDS-nya ato gak. Bisa di googling ko sob. Disitu biasanya tertera informasi tentang oli itu sob. Dan semoga pabrikan yang terdampar di warung ane yang kecil ini bisa mengedukasi usernya soal milih oli yang lengkap dan tidak terkesan menutupi ilmu. Terkesan pembodohan.

Oke monggo di komentari jika ada saran atau sanggahan.

[opini] Karakter (mayoritas) Masyarakat Indonesia Memilih Motor Harian

Hola sobat Azingers, ketemu lagi diartikel opini ane. Kali ini ane mau coba angkat soal karakter mayoritas masyarakat Indonesia kalo milih motor buat kebutuhan hariannya sob. Yaaa kata lain buat commuter gitu deh. Dan kali ini balik lagi soal engkol kaki ato kick starter. Kok nyambungnya kesitu sih? Yaa ane mau batasin pembahasannya disitu doang soalnya karakternya masyarakat Indonesia tu unik banget sob. Sampe masalah engkol aja diributin.


Tentunya sobat inget sama motor legend asli buatan Suzuki. Dulu ini motor pernah di proyeksikan buat jadi suksesor pendahulunya sob. Yaa Thunder 250 yang dengan mesin eksotisnya sempat mencuri perhatian bikers tajir di awal 2000an. Tapi kurang sukses karena isu overprice. Dulu kan awal-awal bangkit dari krismon sob, jadii ekonomi belum kuat banget. Balik lagi ke Thunder 125, pertama kalo keluar di Indonesia dengan spek downgrade dari pendahulunya dan satu yang mencolok, gak pake engkol kaki sob!! Ngeri… Setidaknya ngeri buat saat itu yang masyarakat Indonesia masih familiar banget sama motor ber engkol kaki. Dulu ini motor awalnya impor dari China untuk versi 2004-2005 (cmiiw) lalu digantikan sama versi 2006 yang rakitan Indonesia dibekali dengan engkol kaki. Ya karena mungkin saat itu banyak keluhan soal kekhawatiran akan aki tekor sob.

Lalu inget motor ini gak?

Seingat ane Vixion versi 2012 ini hadir buat gantikan old Vixion yang legend itu. Yang terkenal tangguh buat sport entry level saat itu. Padahl untuk yang versi old-nya masih ada engkol lho sob, tapi di versi penerusnya dihilangkan ato tepatnya Yamaha waktu itu keluarkan 2 versi, yang ber engkol sama yang tanpa engkol, dan masih yang banyak seliweran pun dijalan adalah yang versi berengkol. Dan kemudian lahir Vixion advance, tetap dikasih engkol.

 Berarti secara minat, konsumen lebih suka yang berengkol untuk motor hariannya sob. Ini bisa dilihat dari dua contoh yang ane paparkan sebelumnya. Nah, tapi masyarakat Indonesia seakan punya standar ganda sob soal engkol ini. Ko gitu?

Dua motor diata ini contohnya sob, imagenya kenceng, racy style, born to race, ganteng. Dan kedua motor diatas gak ada engkolnya sob. Tapi tetap laris aja tu untuk segmen sport fairing, bukan commuter yaa.

Naah berarti bisa disimpulkan bahwa masyarakat Indonesia kalo milih kendaraan buat commuter masih lebih memilih kendaraan yang ada engkolnya sob, walaupun pada kenyataannya jarang banget tu dipake kecuali rider-nya masih oldskul habitnya (kayak ane, tapi kadang sob). Tapi mereka siap buat nerima motor tanpa engkol kalo motor itu imagenya balap. Yaiyalah, mana ada motor balap kekinian pake engkol.

Jadi itu opini ane soal karakter masyarakat Indonesia kalo milih motor sob. Lucu yaa, dikasih gak ada engkol minta engkol, dikasih engkol minta engkol. Untuk kasus Kawasaki ninja 2 tak, malah sebaliknya ya sob. Oke segitu aja sob artikel kali ini, kalo ada yang mau dikomentari monggo diisi kolom komentarnya yaa…

Review Pemakaian Mesran Super 

Hola Azingers, lama gak bikin artikel di blog sederhana ini nih. Kangen juga sama kegiatan nulis. Oke kali ini ane mau ngasih testimoni soal pemakaian mesran super di motor ane. Apa lagi kalau bukan usup. Ane pakai mesran super yang botol merah ya sob, bukan yang putih. Dan ane belinya curah kok bukan botolan.


Ceritanya setelah kurang lebih 7 bulan pakai meditran series mulai dari meditran s 40, meditran s 30, terakhir pakai meditran sx 15w40 API CH4, dan semua itu ane beli yang curahan. Hahahaha. Hemat sob. Entar insya Allah ane bikinin artikel kelebihan kekurangan oli curah ya sob.
Dulu sebenarnya sudah cukup nyaman dengan performa dari meditran s 40. Tapi……… Nyamannya keluar pas sudah panas sob. Begitu juga dengan yang meditran sx, biar kata lebih encer, tapi tetep performanya keluar pas panas sob. Nah berhubung kali ini ame jarang long trip, jadi butuh oli yang rada cepet panas gitu. Alias gak perlu manasin lama-lama sob. Ane tadinya mau pilih prima xp yang 20w50 tapi apa mau dikata, di bengkel langganan gak sedia yang curahan, adanya yang botolan. Jadi pindah ke mesran super. Mesran ini olinya asli enak sob (jangan diminum). Cuma pas awal tuang dan awal jalan terasa banget selipnya. Parah lah. Tapi ane pikir itu cuma adaptasi aja. Biasa sob, bentrokan adpack antara meditran sama mesran. 

Dan sekarang udah jalan sekitar 600 km-an lah sob dan mulai enak ni olinya. Makin panas juga gak ada gejala kasar atau pun selip dengan catatan speed gak lebih dari 60 km/jam ya sob. Soalnya kalau udah diatas itu takutnya oli ini gak bisa ngakomodir lagi terus ntar takutnya selip. Ya ane juga gak hobi nyalahin oli sih kalo soal selip kopling, motor ane udah 8 tahuj dan belum ganti apa-apa sob, jadi ya wajar aja sih kalau mulai ada gejala selip. Terus konsekuensi gagal longdrain karna ya additif dan basenya gak sebagus prima xp sudah ane perhitungkan juga kok sob. Oli ini ajob deh buat harga dibawah 30 ribuan dibanding oli motor sekelas sob. Kesimpulannya, pilih oli mah bebas sob, asal sobat tau mana yang boleh mana yang gak boleh di pakai buat motor sobat dan oli juga boleh kok menyesuaikan sama kantong sobat..misalnya anggaran buat motornya terbatas, ya pakai yang low end sampai mid end level aja olinya. Gak usah ngotot pakai oli top tier tapi malah ngorbanin sektor lain yang lebih membutuhkan. Apalagi buat sobat yang udah berkeluarga. Okesob, sampai sini dulu artikel penggunaan mesran supernya. Kalau ada komentar monggo diisi di kolom komentar yaak.

[Opini]Kini MX King Dapat Saingan Sepadan

image

Hola Azingers. Udah jadi rahasia umum soal pertarungan sengit dua pabrikan otomotif besar asal Jepang yakni Honda dan Yamaha menggaung di era 2004an keatas. Pertarungannya pun juga diberbagai segmen tipe motor mereka. Dulu era 2006 saat awal-awal lahirnya Yamaha Jupiter MX pertama kali, banyak yang menandingkan MX dengan jagoan Honda sob, Ya apalagi kalo bukan Supra X 125 yang dulu termasuk menggebrak dengan mesin 125 cc warisan Karisma.
Bahkan sampe tahun 2007 saat keluar Supra X 125 versi lampu dua, ditambah saat itu mulai banyak blogger-blogger bermunculan dibidang otomotif, motor ini dibanding-bandingkannya langsung sama MX dengan cc 135 dan mesin tegak plus pendingin cairnya yang menjadi andalan. Apalagi waktu itu MX sudah dilengkapi varian kopling manual dan monosok.

image

Sisi pengereman belakang yang masih tromol pun diabaikan oleh calon pembeli yang umumnya anak muda. Supra X 125 gak lagi dibandingkan dengan sekelasnya seperti Suzuki Shogun 125 series, Suzuki Arashi yang secara spek lebih masuk akal untuk head to head dengan Supra X 125. Tapi justru saat itu pertarungan yang terjadi adalah seperti pemaksaan. Lebih menjual pertarungan gengsi pabrikan dibanding kenetralan atau kesetimbangan duel. Contohnya, mesin tegak lawan mesin tidur,  SOHC 4 katup lawan 2 katup, monosok lawan dual sok, pendingin cair lawan pendingin udara konvensional, itu beberapa hal yang sebenarnya dipaksakan untuk dibandingkan lho sob menurut ane. Jupiter yang sudah berevolusi dari bebek komuter menjadi bebek super harus berlawanan dengan bebek komuter elegan khas pekerja keras seperti Supra X 125. Ya jelas gak imbang kan? Entah kenapa dulu itu banyak yang bandingin dua motor ini. Adu drag lah, adu cepat di balap liar lah dan lain sebagainya. Namun kini MX yang sudah 150 cc dan tetap dengan trah bebek supernya memiliki lawan sepadan sob. Apalagi kalo bukan Supra GTR 150. Sama-sama trah bebek super. Ulasan-ulasannya banyak dibahas blogger-blogger senior tentang perbandingan dua jagoan pabrikan seteru sengit ini. So, istilah “pilihlah lawan yang sebanding/seukuran denganmu” berlaku dikasus ini. Honda berani menghadapi hegemoni MX yang sudah melekat dengan image kencang yang memang ane rasain kenceng sih sob. Ane baru jajal yang 135 cc seriesnya, belum yang 150 nya. Sedangkan Supra kan identik dengan motor “bapak-bapak” yang ane bilang motor ini karakternya motor cinta. Slow-slow gimana gitu. Tapi kadang bisa juga di ajak centil lho sob. Hahaha.
Oke kita lihat perkembangan duel disegmen ini yang sebenernya lagi gak serame kelas metik dan juga kita tunggu deh pergerakan dari pabrikan lain, yang terdekat sih Suzuki. Secara mereka juga punya pengalaman ngehasilin bebek super.
Sekian dulu sob opini kali ini dari ane soal duel sengit bebek super. Kalo ada kritik dan saran silahkan di sampaikan di kolom komentar ya sob.

[Opini] Alasan penjualan inazuma kurang moncer

image

Hola Azingers. Kali ini ane mau angkat soal kenapa sih suzuki inazuma gak moncer dalam hal penjualan dibanding tiga brand lainnya?
Alasan pertama menurut ane adalah karena image-nya motir 250 cc di Indonesia tuh “harus” racing look, stylish, lancip-lancip bodinya, kenceng, dohc dua silinder kalaupun satu silinder mesti dohc, murah. Nah alasan mindset ini lah yang menjadi alasan pertama sebab suzuki inazuma gak moncer. Soalnya dari desain udah kalah karena gak semua user suka sama modelnya suzuki satu ini yang konon katanya terinspirasi dari Suzuki BKing, terus image kencengnya gugur juga karena bodi gambotnya dan fakta bahwa mesinnya “terlihat” inferior dibanding mesin tiga pabrikan lainnya yang pake basis mesin DOHC. Inazuma justru main di zona “ora umum” dengan menggunakan basis SOHC. Dari segi power diatas kertas sih memang kalah dibanding pabrikan lain, namun kembali lagi, Inazuma bukan diciptakan buat speed freak, tapi ke cruiser holic. Dengan torsi yang dikail di RPM rendah ditambah riding position touring sport, sebenarnya bukan alasan buat nolak Inazuma buat dijadikan kendaraan hobi. Tapi ya itulah, karena desain nyeleneh maka Inazuma ini kurang moncer.
Alasan kedua image spare part mahal. Sebenarnya alasan ini kurang pantas ditujukan buat kelas 250 cc keatas. Masa iya punya motor seharga 50 jutaan mampu beli tapi buat part masih ngarepin murah ala bebek? Malu lah sob. Tapi ya realitanya begitu sih dimasyarakat
Alasan ketiga adalah karena Inazuma ini adalah keluaran Suzuki. Buat sobat yang paham sedikit soal mitos-mitos motor Suzuki yang katanya mahal-mahal dan sulit sparepartnya dan segala macam mitos tendensius lainnya bakal paham kenapa alasan ini ane cantumkan. Entah kenapa kalau motor keluaran Suzuki bakalan sulit ngalahin tiga pabrikan Jepang lainnya.
Yang terakhir layanan aftersales Suzuki yang harus ane akuin memang kurang merata dan banyaknya dealer yang tutup karena kurang lakunya motor keluaran Suzuki secara keseluruhan.
Ya itu empat alasan dari ane soal Inazuma yang kurang moncer penjualannya dibanding motor dari pabrikan lainnya. Kalo ada tambahan kritik dan saran, langsung aja sob ditulis di kolom komentar. Sekian dulu ya sob.